21 Maret 2017 | Visual nya Laki laki

Tulisan ini dibuat hanya sekedar case study di lapangan yang sebenernya saya pun masih selalu penasaran ingin menelitinya. Hehe tapi boleh lah saya sedikit berbagi semoga gajadi sok sok-an seolah olah sok kerupawanan

Pernah denger kan kalo laki laki itu katanya lebih mengandalkan mata sebagai objek dalam mencari pendamping hidup. Sedangkan perempuan, selain mata mereka menambah telinga sebagai alat untuk mencari pendamping hidup

Misal, saya ketika melihat pria tampan entah kenapa tidak bisa langsung tertarik. Bukannya saya lesbi.haha saya pun juga ga ngerti kenapa bisa begitu. Nah ketika si pria yang katakanlah bisa dibilang cukup tampan ini berbicara, atau ya dia ngapain lah yang bikin aku jadi denger suara dan gelagatnya ketika ngomong, itu bisa menambah nilai tersendiri bagi saya untuk tertarik/kagum. Saya sering menemukan case study seperti ini di kampus, ketika para ukhtipis yang mengagumi akhtipis.wakaka dan normal yes

Nah kemudian bagaimana dengan laki-laki yang lebih mengandalkan mata mereka? Sedikitnya ada 2 kasus nyata yang saya ambil dari hidup saya sendiri. Asik. Ya kali kali aja ini bermanfaat buat yang baca sebagai tambahan ilmu dalam bersikap sebagai perempuan

Kalo ditanya ada berapa orang yang pernah pdkt sama saya? Saya jawab, saya lupa. Bahkan mungkin kadang saya ga sadar apakah dia sedang pdkt atau tidak. Haha parah dah. Maklum, kalo pake alasan yang ga ilmiah mungkin karena saya anak pertama yang tidak punya kakak sebagai tempat bertanya. Jadi saya tidak bisa mengidentifikasi kapan laki laki itu disebut pdkt. Tweweeewew. Belum lagi saya penganut paham tidak pacaran sebelum nikah. Ga usah bawa bawa dalil takut zina kenapa saya memilih bersikap untuk tidak pacaran sebelum nikah. Pada dasar nya saya memiliki pola pikir logika yang kuat seperti laki laki. Jadi ketika dihadapkan dalam satu kejadian, selain menggunakan perasaan saya sering melibatkan logika saya

Jadi saya akan bertanya pada diri saya sampe jawaban itu bisa masuk akal dalam otak saya. Apa manfaatnya pacaran? Dan ketika saya mencoba menjawab pertanyaan ini, saya tidak menemukan kebermanfaatan ataupun kemantapjiwaan dalam diri saya ketika saya pacaran.ahhaha ini bahasaku kenapa makin alay sik. Jadi jelas, waktu SMA ketika teman cowok yang sesama Rohis nembak saya bukan pake pistol, saya langsung tolak. Dan saya tidak pernah iri ketika melihat banyak teman perempuan saya yang sudah ‘laku’ duluan sebelum nikah. Entahlah padahal dulu di SMA boleh dibilang, kalo cewek punya pacar akan menjadi satu kebanggaan tersendiri. Dan untungnya saya tidak ikut arus sama pemikiran yang begituan wkwk saya lebih suka belajar fisika kimia biologi matematika yang akhirnya mengantarkan saya mempelajari bahasa arab di UPI

Kembali ke pdkt

Saya pernah di pdkt kan dan ternyata memang sebenernya yang pdkt ini tentu punya niat yang serius kepada saya

Yang pertama laki laki ini saya kenal dalam satu acara sosial, dari kampus sebelah yang masih berstatus negeri, sebut saja Unpad. Yah sebut merk dah.wkwk. Pertanyaan pertama yang saya lontarkan adalah ‘kamu beneran suka sama aku?’ bagi sebagian orang pertanyaan seperti ini mungkin bisa dianggap biasa aja bahkan diketawain mungkin, tapi menurut saya gatau kenapa ini penting banget kenapa dia bisa suka sama saya. Katanya dengan jujur, ‘waktu pertama kali liat langsung suka. Apalagi waktu pertama kali ngomong keliatan dewasa jadi langsung suka aja. Ya gimana ya kamu nanya gitu aku cuma bisa jawab gitu. Aku juga ga ngerti kalo udah suka ya suka aja’ ceritanya saya masih ga terima dengan alasan nya yang masak cuma baru pertama liat bisa langsung suka. Aneh, dia ga bisa liat apa betapa begajulannya hidup saya, masak cuma baru liat bisa suka, ah aneh lah ga masuk akal. Belum lagi saya ga ngerasa cantik kayak Pevita Pearce yang ambooooy cantiknya, atau kayak salah satu artis yang udah cantik, pinter kuliah, Gita Gutawa. Diakhir cerita pria ini mengundurkan diri karena terjadi musibah keluarganya terkena hutang, membuat dia harus menunda niatnya untuk menikah. Saya aman, karena perasaan saya udah di posisi netral. Ibarat kata saya lagi nyetir, posisi perasaan dia itu kemungkinan ada di gigi 4.huhu sedih juga ngeliatnya kalo diinget inget lagi. Karena mau ga mau dia harus melepas saya dalam keadaan yang sangat berat. Selesai case study yang pertama

Yang kedua ada laki laki yang tiba tiba ditawarkan oleh ‘guru ngaji’ saya yang biasa saya panggil dengan teteh. Ceritanya teteh saya ini punya teman laki laki yang memiliki ‘murid ngaji’ laki laki yang sudah siap menikah. Tentu saja kepo kepo dengan teteh saya adakah murid ngaji perempuannya yang sudah siap menikah untuk dicomblangkan. Dan berkomunikasilah laki laki tadi dengan guru ngaji saya. Ternyata teteh saya inipun sempat iseng sedikit kepada laki laki ini

Jadi di Bandung kan banyak studio foto tuh, nah di kampus itu biasa banget foto bareng untuk mengabadikan momen yang formal. Termasuk kelompok ngaji saya ini. Dan ada sekitar 9 orang perempuan yang berfoto. Teteh saya ini bertanya kepada laki laki tadi untuk memilih ke 9 perempuan yang ada di foto setelah dikirimkan tentunya via watsap. Dan musibahnya yang dipilih adalah saya. Padahal teteh saya itu sengaja memilihkan foto yang tangan saya itu menutupi muka (waktu itu ceritanya saya iseng nempelin tangan ke muka membuat muka saya sedikit tertutup alias tidak jelas semua). Nah laki laki itu bilang, gatau kenapa dia maunya sama saya aja. Diyakinin lagi sama teteh saya, itu masih banyak loh muka yang lebih jelas dan lebih cantik. Dia kekeuh udah yakin dengan pilihannya. Dan terjadilah drama.wkwk yang pada akhirnya saya menolak karena ada pemikiran mendasar yang cukup berbeda, yang saya fikir akan sangat sulit menyatukan perbedaan yang kecil. Dia bermadzhab Hambali sedangkan saya bermadzhab Syafi’i. Belum lagi ketika saya tanyakan dimana Allah beliau menjawab Allah dilangit, wah semakin kacau ini. Karena saya seorang ahlussunnah asy’ari yang berkeyakinan Allah ada tanpa tempat, tanpa arah dan tanpa ukuran. Bisa bisa ketika mendidik anak setiap hari bertengkar. Padahal kata tetehnya dia hafal 30 juz, tapi tetap membuat saya dengan terpaksa tidak bisa menerimanya. Kalo ditanya kenapa laki laki yang pertama tidak ditanya madzhab fiqihnya apa? Waktu itu karena masih proses masuk pintu gerbang saja belum dalam proses yang lebih serius

Dari dua kasus diatas saya pun bisa mengambil kesimpulan yang baik, kalo ternyata laki laki itu jelas menggunakan mata sebagai alat yang digunakan dalam mencari seseorang yang menarik untuk mendampingi hidupnya.halah. Tapi saya belum menemukan jawaban secara ilmiah kenapa mata yang dijadikan alat utama? Kenapa? Bisa diperatiin juga kayak film film atau novel kebanyakan, katakanlah Titanic, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, ataupun ceritanya Laila Majnun

Dan dari cerita diatas saya sudah memiliki keinginan yang kuat untuk bercadar dalam kondisi tertentu. Selain karena memang dalam Madzhab Syafi’i menutup aurat yang paling sempurna untuk perempuan adalah sampe menggunakan cadar, dan berpakaian yang gelap gelap

Dan begitu pula ketika seorang suami istri sudah berwudhu ketika hendak melakukan shalat, dalam madzhab Syafii jika suami istri bersentuhan tanpa adanya hijab pada kulit dihukumi batal dan harus berwudhu lagi.

Alhamdulillah selesai juga tulisan saya.hehe

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s