auladiy (anak-anakku)

entah kena angin apa di akhir juni kemarin saya ikut serta jadi fasilitat*r pesantren liburan di DT yang dinaungi oleh PT Duta Transformasi Insani disingkat menjadi DTI, lembaga ini biasa berurusan dengan kegiatan yang berbau kepelatihan, pilihan kelas yang akan kita bimbing pun bervariasi mulai dari kelas 1 SD sampai 3 SMA, saya tahu betul betapa repotnya mengurus anak kelas 1, 2, 3 SD karena saat saya masih SD biasa nimang bayi alias adik sendiri karena faktor umur kami yang berdekatan, dan untuk kali ini entah kena angin apa lagi saya teken kontrak dengan anak kelas 2 SD, kalo biasanya di kepanitiaan saya berurusan dengan orang-orang yang gampang diatur kali ini saya ingin membunuh kepenasaran itu dengan ‘bermain’ bersama 10 anak orang, ya ini anak orang, mereka punya karakter seperti bunglon, ketika dirumah bisa menjadi hijau, ketika di sekolah bisa menjadi merah dan ketika liburan bisa menjadi putih, ini merupakan kepanitiaan terbesar kedua yang saya ikuti setelah imss tahun lalu  bedanya kalo di imss dulu saya harus memasang urat malu dengan hati-hati tapi untuk mengurus 10 anak-anak orang ini saya harus memutuskan sebagian urat malu saya, gunanya? ya anda sendiri pasti mengerti, itu bisa dijadikan cara untuk menyentuh hati anak-anak. awalnya saya cukup bego bagaimana berperilaku layaknya mengapresiasi tingkah laku anak-anak, bayangkan saja ketika ada 1 anak yang bercerita di rumahnya memelihara piaraan kucing maka yakinlah ke sembilan anak yang lain akan mengeluarkan cerita yang sama namun berbeda piaraan, ‘kak aku punya 4 kucing loh dirumah’ sebagai pendengar yang budiman maka dengarkan aku teman, lihatlah matanya dan pujilah dia maka secara otomatis dia akan merasa seluruh dunia sedang menghargainya. saya pikir hanya dia seorang yang akan bercerita kemudian muncullah suara teman-temannya yang tak mau kalah suaranya ‘kak aku punya kura-kura tapi baru segini’ dia ngukur pake tangannya sekitar pergelangan tangannya’ kemudian menyusul lagi ‘kak kalo aku kura-kuranya udah segede gini’ dia melingkarkan tangannya dengan selebar-lebarnya (aku pikir mengerikan sekali kura-kura dirumahmu) maka jadilah pendengar yang baik, kalau lewat saja satu ucapan dari mereka yang tidak kau apresiasi maka bisa kubilang anda akan sedikit menyesal telah melakukan itu, walaupun terkadang saya sangat sedih, hati ini sering kali mengingkari dengan kenyataan raut muka ketika kepenatan sedang bergelayutan begitu beratnya kau harus tetap menarik bibirmu 2 centi ke kiri dan ke kanan, ada sedikit tips agar itu tidak menjadi beban yang lebih berat, gunakan hatimu, anggap dia saudara kandungmu, liat betapa polosnya muka anak kecil itu yang belum distempel oleh dosa, ah aku baru sedikit faham bagaimana rasanya menjadi orang tua yang harus mengurus anak-anak mulai dari melahirkan sampai menyapihnya dst. mungkin benar juga, mengurus 10 anak itu mulai dari mereka bangun pagi sampai mereka tidur lagi selama 4 hari 3 malam bak memiliki 10 anak kembar yang langsung besar tanpa rasa sakit melahirkan karena bukan saya yang melahirkan mereka.

di hari pertama merupakan ajangnya pemecahan es batu karena untuk membuat mereka menurut oleh kakak pembimbingnya bukanlah hal yang sulit tapi bukan juga hal yang bisa dianggap sepele, karena ketika kau akan mengumpulkan 10 anak-anak itu untuk berbaris dengan rapi, dijamin hatimu belum tenang ketika jumlah yang dihitung hanya 9, ketika kau akan mencari 1 orang yang lain yang 9 orang itu akan kabur maka kali ini saya gunakan sistem persaudaraannya ala muhajirin dengan anshar. jadi setiap mereka akan berbaris, mereka harus memegang teman gandengan yang ada di sebelahnya, ini kutekankan kepada mereka untuk menghafal siapa nama teman gandengannya dan berlaku seumur hidup (red:sampai acara beres) ternyata metode ini cukup efektif, yang awalnya saya menghitung kepala mereka dengan tu, wa, ga, pat, ma, nam, ju, pan, lan, luh, sekarang tinggal menghitung 2 kepala menjadi 1, tu, wa, ga, pat, ma (oke anak-anak, semuanya maju jalan..) dan mau-maunya mereka aku suruh jalan babarengan [?] ah cerita apa sih ini? tapi beginilah anak-anak, mereka apa adanya yang tidak diada-ada.

pemilihan ketua kelompok akan dimulai di siang harinya, mungkin kalo dikampus seorang lelaki dengan predikat keikhwanannya yang jantan bin shalih dia tidak akan gampang mengayunkan tangannya untuk menjadi seorang pemimpin sambil berkata ‘kang saya saja ya yang jadi ketua BEM, kang saya saja ya yang jadi ketua LDK, saya berjanji akan melakukan apapun yang terbaik demi majunya lembaga ini, jadi tolong pilihlah saya’ (iyuh..tidak akan ada kurasa, karena kau juga tahu amanah itu bukan untuk diminta-minta) tapi ini tidak berlaku untuk anak kecil, dari 10 orang yang kutawarkan dengan nada yang sangat hati-hati ternyataaa…”nah sekarang siapa yang mau menjadi ketua di kelompok kita?” dan survei membuktikan!>> 9 dari 10 orang mengangkat tangannya (dan ini sudah kuduga) bahkan ada 1 orang yang secara umur dia lebih dewasa dari yang lainnya menanyakan hampir 1 jam sekali ”kak kapan kita mau pemilihan ketua kelompok?” untuk metode ini saya gunakan sistem kalah-mengalah ‘siapa yang mau mengalah jadi ketua kelompoknya besok? dan saya berondong dengan pertanyaan-pertanyaan seputar matematika hingga berhasil  menyisakan 3 orang kontestan yang kekeuh tetep pengen jadi ketua kelompok, yang terakhir saya ceritakan betapa besarnya tanggung jawab menjadi ketua kelompok dengan penjelasan ini itu, harus hafal teman-temannya, harus mau bantu teman-temannya, harus ini itu sampai akhirnya turun 1 tangan, karena saya kehabisan cara jadilah dua orang itu ketua dan wakilnya, ternyata belum sampai disitu, teman-teman yang tidak terpilih langsung menanyakan ‘kak besok ketua kelompoknya diganti kan?’ ucapkan saja oke maka semuanya beres, dan apa yang terjadi keesokan hari sampai seterusnya? ketua dan wakil tidak ada yang terganti, mereka legowo dengan keputusanku (mau tau caranya?) :p

btw mau tau siapa 1 orang yang tidak  sudi mengangkat tangannya untuk menjadi ketua kelompok? dia alifah, anak termuda di kelompok ini, akan kuceritakan juga tentang dia di bawah ini 😀

untuk sesi menangis…

karena saya masuk kelas 1, 2, 3 SD maka bisa dikatakan wajar pada hari pertama ketika mereka ditinggalkan ortunya akan bermelodi dengan tangisan yang membahana untuk minta pulang. mereka tidak akan pernah memikirkan orang tuanya sudah mengeluarkan uang pendaftaran yang tidak murah, mereka tidak akan mengingat orang tuanya sudah membekali baju sekoper untuk nginap selama 4 hari 3 malam, yang mereka ingat hanyalah bagaimana caranya agar bisa pulang dari tempat ini dengan alasan yang sangat klasik; kangen, bosen, dan bla bla. sebagai fasilitat*r anda jangan mau kalah dengan rengekan mereka karena percayalah itu hanya bersifat sementara dimana flow tangisan mereka yang begitu tinggi bisa meluluhkan hati orang tua untuk memulangkannya, dan sedikit bocoran, masalahnya waktu kecil saya sering mengalahkan ortu saya dengan tangisan bukan buaya.he. saya sangat bangga dan sangat merasa dihargai ketika ada orang tua yang benar-benar tidak mengunjungi anaknya demi kesuksesan anaknya sendiri yaitu goal menjadi anak yang mandiri, sampai ada orang tua dari anak cowok yang berkata begini ke kita “teh saya titip anak saya, kalau anak saya telpon tidak akan saya angkat” bukan tanpa alasan ibunya berkata begitu, justru karena saking sayangnya kepada anaknya ibu itu harus sampai hati mengatakan hal yang tidak mudah dikatakan oleh orang tua yang lain dan tetep aja masih ada orang tua yang bahkan mengajak nenek kakeknya untuk melihat sedang apa cucunya di acara itu. sebenarnya dari tulisan ini peer terbesar saya adalah apakah nantinya saya mampu mengurus anak dengan penuh kesabaran, ketika anak saya mengangis apakah saya mampu nantinya melepas anak disaat ada acara seperti ini, karena katanya nih.. tapi gatau juga kevalidan infonya, perempuan menggunakan 99% perasaannya dan hanya menggunakan 1% logikanya, bisa ditebak untuk kaum adam bagaimana ukurannya. maka memang sepantasnya ketika seorang ayah mampu mengimbangi ketidaktegaan seorang ibu [?] karena aku pikir kalau seorang ayah tidak tega melepas anaknya untuk menuntut ilmu dimana tempatnya juga dituntut harus ditempat yang jauh ya bisa jadi anak-anak kurang berkembang kali ya (mungkin)

dari 10 anak yang sedang kujaga ini ada 4 yang sudah menangis, 1 sakit perut, 3 kangen ortu, 6 nya lagi mati rasa eh maksudku mereka hebat tidak menangis sama sekali sampai akhir acara. sedikit saya analisis soal tangisan anak ini, saya pikir seseorang yang begitu gampangnya mengeluarkan air mata ketika anak merajuk ingin pulang adalah sebuah bakat yang timbul dari sananya. karena… mengapa ada anak yang mampu ceria disaat film kartun alqomah ditayangkan, kau tahu kan cerita tentang durhakanya alqomah kepada orang tuanya, maka ketika film itu sedang memutar kenangan alqomah masih kecil yang begitu bahagia di gendongan ibunya, serentak tiba-tiba terdengar sayup-sayup anak-anak mulai nangis, kasihan sekali mereka, sedang rindu dengan ibunya malah ditimpa lagi dengan tontonan yang mengharu biru,he alhamdulillahnya anak-anaku tidak ada yang menangis walaupun mereka bilang ‘aku jadi kangen ibu kak’ saya langsung pura-pura ga denger untuk pengalihan isu. tapi ada 1 yang masih aku heran dengan shafiyya (ah dia ceria sekali hobinya suka lari-lari sambil goyang-goyang gajelas) ketika kutanyakan ‘sofi nonton film tadi kamu jadi inget ummi ga? dia biasa memanggil ibunya dengan sebutan ummi. beginilah jawabnya ‘kak kok aku malah ngantuk ya nonton film tadi’ (ya ampun gimana ga bakat tuh)

nah ada lagi yang paling kecil usianya, alifah dia yang paling sering nangis, kami sama-sama menghitung jumlah tangisan anak, dari 4 orang yang nangis, yang sakit perut ga kena hitungan karena rukshsah bagi yang sakit jadi wajar kalo anak nangis karena sakit, ada athaya 3 kali, nisrina 2 kali, dan rekor dipecahkan oleh alifah 11 kali, walaupun dia yang paling cengeng dia yang paling peduli dengan teman-temannya, ketika tiba waktunya makan berjama’ah maka dengan cepat dia berkata padaku ‘kak aku ambilin minum ya’ sebenarnya aku kasihan melihat tangannya yang kecil itu tetep berusaha mengambil sebanyak-banyaknya air kemasan sampai 5 gelas, kemudian teman-temannya ikut membantunya (salam pelopor), pernah juga di hari pertama ketika akan mengurus anak-anak untuk tidur tiba-tiba suara saya habis maklum terkadang harus bersuara lebih ekstra kepada anak-anak, maka alifah akan menyodorkan botol minumannya ke arahku ‘kak minum ini, minum ini, kak masih serak ga? makanya kalian jangan ribut suara kak nida jadi habis..’ *jadi terharu

ketika evaluasi di malam hari untuk hari pertama ternyata dari koordinator ada yang menanyakan adakah fasilitat*r yang mau berhenti disini, karena mumpung ini masih hari pertama dipersilahkan untuk mengundurkan diri, tak kusangka ada 1 orang yang mundur. mungkin begitulah niat bisa kita bersihkan dari awal, perbaharui di tengah, dan luruskan sampai akhir, maka percayalah kau akan kuat (insyaAllah). kenapa saya tidak mundur? ya karena saya sudah memecahkan es yang ada pada 10 anak itu di hari pertama, maka untuk hari seterusnya walaupun memerlukan 2 kali lipat tenaga, mereka akan mudah kita cetak, mereka akan mudah mengikuti kita, ibarat induk bebek dia akan mengikuti kemanapun kita pergi, sampai akhirnya mereka bisa terbiasa melakukan pekerjaan dengan mandiri.

tingkah mama2 mereka juga beragam, mungkin yang paling unik adalah ketika mama mereka tidak kuat menahan rindu maka dengan cukup intensif saya kirimkan foto dan video anak-anaknya via watsap, ternyata cara itu cukup ampuh..saya yakin orang tuanya tidak ingin menghancurkan misi saya dengan kehadiran mereka di acara ini, hehe kasian ya mamah yang bermental rindu berat dengan anaknya (bagaimana saya nanti?) mungkin ada yang pernah nonton hellen keller, ya semacam itulah, i’m not your baby sister but i’m just your sister

jadi kalo dilihat-lihat terdapat kesalahan ortu juga yang begitu memanjakan anaknya sehingga ketika dilepas sedikit anak akan mengeluarkan senjatanya (nangis), seketika itu juga saya berdoa semoga Allah memberikan kemampuan yang tepat kepada saya dan suami *eh supaya bisa mendidik anak dengan baik, yah learning by doing lah.kekeke

oya dari pengalaman kemaren saya jadi punya sedikit stok untuk main tepuk2an, mungkin kalo dipraktekkan didepan mahasiswa ya ga mungkin, satu lagi ternyata berinteraksi dengan anak kecil yang laki-laki  juga ga kalah seru..mungkin bisa sedikit diajak ngobrol tentang sepak bola, kau tau lah para cowok pasti pembahasannya tidak jauh dari seputar bola, tanyakan saja klub apa yang dia suka, maka merasa terhagailah dia (meuren) pernah kutanyakan kepada salah satu anak cowok, ceritanya dia suka christiano ronaldo dari real madrid, terus saya tanyain ‘kamu kenapa suka sama ronaldo?’ ‘karena aku suka rambutnya kak’ untung aku ga gedubrak denger jawabannya, biarkan mereka menjawab dengan polosnya dan sambutlah dengan ungkapan yang tak kalah menarik ‘kakak juga suka sama messi karena kaosnya yang keren’ hehe ceritanya saya kesengsem sama jersey barca bertuliskan qatar foundation tapi sampai sekarang belum kebeli, ada juga anak laki-laki yang terpaksa mendarat di posko medis karena kakinya terkilir jadinya dia ga bisa ikutan outbound di hari ke tiga, waktu itu saya ga sengaja ngeliat dia dan respek aja pengen ngajak ngobrol, saya cukup bisa membaca mukanya kalo dia pengen banget ikutan outbound tapi saya ga perlu nanya lagi ‘kamu kenapa ga ikut outbound?’ yang tentunya akan semakin menciderai hatinya, karena kulihat dengan jelas perban beroleskan obat herbal di kakinya. inti di akhir pembicaraan kami aku menanyakan ‘Arvin punya adik ga?’ dia jawab sambil mainin tanah ‘punya kak 1, dirumah aku dipanggil abang sama adekku tapi dia bandel banget, aku suka sebel sama dia’ dia bilang abang tiba-tiba aku inget adikku yang juga dipanggil abang ‘nah Arvin, sebagai abang seharusnya kamu baik-baik dong sama adek, biar enak mainnya’ terus aku terangin lagi yang ini rada lebay, karena kita boleh kan ya lebay demi kebaikan, aku bilang aja gini ‘kakak juga punya adik laki-laki dia dipanggil abang juga kayak kamu, waktu kakak kecil, sering banget nangis kalo ada orang yang ngejahilin kakak tapi dia suka bela kakak padahal dia adik kakak tapi karena dia laki-laki dia suka bantu kakak, nah pas udah gede baru deh kita kangen-kangenan karena dia kuliah nya di bogor, jauh dari bandung, jadi mumpung kamu masih tinggal satu rumah sama adek, kamu  jangan suka berkelahi ya.. (rada mual gue nulis ini) si Arvin tetep dengan pendiriannya bahwa adiknya adalah yang paling bandel sedunia, padahal mah saya juga hobi berantem ama adek waktu kecil  😀 pas udah gede baru deh lupa dengan semua kejahatan kita.hoho

jadi sedikit kesimpulan yang bisa saya ambil, anak-anak itu tidak akan pernah sama karakteristiknya, sentuh mereka sesuai dengan keinginannya, ikuti ceritanya walaupun kita sampai tersesat jauh dan kembalikan cerita mereka diiringi aqidah yang jernih, jangan pernah tidak memberi apresiasi sekecil apapun minimal sunggingan senyum, jangan sungkan-sungkan melarang dengan tegas apabila ada yang salah niscaya hati mereka akan tersimpul sendirinya dengan hati yang mendidiknya dan ingat peer terbesar saya (kita) adalah sehebat-hebatnya kita mendidik anak orang apakah kita mampu mendidik anak sendiri dengan cara yang tepat. Allahua’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s